Thursday, May 8, 2014
Eulogy for Papa
Papa lahir dengan nama Tan Thiam Bing di Cilacap, 5 Juni 1946. Papa saya orang desa, dekat dengan alam. Dari Papa saya belajar mengenali pohon buah dari bentuk batang & daunnya. Dari Papa saya belajar navigasi, agar tdk tersesat di mana pun saya berada. Dari Papa saya belajar parkir mobil untuk mundur.
Papa pekerja keras. Saya mengagumi keuletan, ketekunan, kegigihan Papa untuk bekerja. Papa juga begitu ingin menyenangkan keluarganya, sampai-sampai Papa rela membawa pulang jatah konsumsi untuk kami di rumah. Papa selalu berusaha menawarkan makanan yang dianggapnya paling enak untuk kami; padahal saya tahu, sebenarnya itu yang paling disukainya.
Papa paling kerasan bila berada di laut. Esok pagi kami akan melarung abunya di laut, agar dia bisa kembali bersatu dengan lautan yang begitu dicintainya. Kami akan selalu bisa menyapa Papa dalam buih ombak. Karena Papa suka memancing di laut, saya belajar menghargai cahaya di kegelapan, karena bila ada orang di daratan menyalakan lampu, kapal yang ditumpanginya saya yakin lebih aman, pasti bisa kembali dengan selamat. Karena ada cahaya untuk memandu.
Dari Papa saya belajar arti kata kesederhanaan yang sesungguhnya. Selera makannya sangat sederhana: dengan sayur & ikan pun Papa sudah menikmati. Papa melayani dengan sederhana, tanpa gengsi. Papa mengampuni dengan sederhana. Bahkan kepada orang yang telah melanggar haknya, Papa lebih dulu meminta maaf. Perginya pun sangat sederhana: di tempat tidurnya sendiri dalam damai, masih dalam baju tidurnya. Sampai-sampai beberapa orang, bahkan yang belum kenal Papa, waktu mendengar hal ini bisa berkata: hanya orang berhati baik yang diizinkan Tuhan untuk berpulang dengan cara seperti ini. Iman Papa pada Tuhan Yesus pun sederhana: bahwa Tuhan sudah begitu mengasihinya. Pada waktu saya memilih lagu-lagu yang kita nyanyikan bersama hari ini, saya ingat ada sebuah lagu yg sangat disukai Papa. Lagu ini menggambarkan kemurahan Tuhan atas hidupnya, bagaimana Tuhan sudah mengangkat Papa dari sebuah desa di tepi laut ke tempat yang lebih tinggi, yaitu dekat dengan hati Tuhan Yesus. Lagu ini menggambarkan rasa syukur Papa pada Penciptanya.
Papa di mata saya adalah pelayan Tuhan, murid & anak Tuhan yg sejati. Saya yakin kalau saya mau tuliskan bagaimana Papa sudah memberi teladan kehidupan pada semua sanak saudara & teman serta kenalan, bisa diterbitkan buku yang tebal. Kami sekeluarga begitu tersentuh oleh ucapan belasungkawa serta penghiburan dari begitu banyak orang. Berarti, Papa sudah menjadikan lebih banyak orang merasakan kasih & perhatiannya yang tulus. Terima kasih banyak kepada Pdt. Lim Supianto yang berkenan melayani serta memimpin rangkaian ibadah hari ini. Terima kasih kepada Pdt. Joutje Tairas, Ibu Marijke, serta keluarga besar GBI Imanuel & GKA Gloria. Terima kasih pada para karyawan yg begitu setia & berbakti. Kalian semua tak lain juga sudah dianggap anak-anak sendiri oleh Papa. Terima kasih pada kerabat serta teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk mendukung kami dalam doa maupun bantuan lainnya, baik secara moral maupun material. Sehingga kami tidak merasa sendirian dalam melewati kesedihan ini. Biar hanya Bapa di Surga yang akan memberkati Bapak & Ibu sekalian, yang tidak sanggup kami sebutkan satu-persatu. Bila ada kata atau perbuatan yang menyinggung, atas nama Papa & keluarga saya minta maaf sebesar-besarnya. Kami sekeluarga percaya bahwa Papa saat ini sudah ada di Surga bersama Tuhan Yesus, keluarganya, teman-teman sekampungnya, dan semua orang percaya yang sudah lebih dahulu ada di sana. Tiada lagi rasa sakit & air mata. Dan kita akan bertemu lagi di hari yang indah nanti.
Ada sebuah lagu cinta, yang saya rasa liriknya sungguh tepat untuk menggambarkan cinta saya pada Papa:
I see Jesus in your eyes, and it makes me love you.
I can feel Jesus in your touch, and I know He cares.
I hear Jesus in your voice, and it makes me listen.
And I trust you with my love because you are His.
I see Him.
I see Him in you.
Subscribe to:
Posts (Atom)